Tuntunan Lengkap serta Bacaan Doa Sholat Tahajud

Komunitasmuslim.com – Kaum muslimin yang berbahagia sudahkah anda rutin sholat Tahajud setiap harinya ? Perlu kita ketahui bersama bahwa sholat tahajud sendiri memiliki beberapa keistimewaan yang dapat kita dapatkan dengan menjalankan sholat tahajud.

 

Berikut informasi Tuntunan Lengkap serta Bacaan Doa Sholat Tahajud yang telah kami rangkum untuk anda agar anda mudah dalam menjalankan Sholat Tahajud.

 

Bacaan Arab

 

Bacaan Latin

Arti

 

Untuk anda yang ingin menyimak video Doa Sholat Tahajud dapat menonton melalui video bermanfaat dibawah ini

 


Sumber : bacaansholatlengkap

Mengapa Allah SWT menciptakan dajjal ?

Komunitasmuslim.com – Kaum muslimin yang beriman taukah anda bahwa semua yang ada di muka bumi ini entah itu berwujud ataupun tidak berwujud seluruhnya sudah Allah SWT takdirkan untuk ada di muka bumi ini. Ketahuilah bahwa dunia yang kita sekarang pijak nantinya akan hancur sesuai yang telah di takdirkan Allah SWT. Hancurnya seluruh seisi alam semesta ini bisa kita katakan Kiamat terjadi. salah satu tanda kiamat terjadi ialah munculnya sosok dajjal yang menghampiri kaum muslim dan membujuk untuk menyembahnya. Namun tahukah anda mengapa Allah SWT menciptakan sosok dajjal untuk ada di muka bumi ini ? beberapa alasan mengapa Allah SWT menciptakan dajjal. Seperti yang kita ketahui, suatu masa akan datang suatu makhluk yang menyebarkan fitnah yang luar biasa, makhluk itu disebut dajjal, dan yang perlu kita tahu tidak ada kota yang tidak akan terkena fitnah ini kecuali kota Mekah dan kota Madinah.

Namun, mungkin sebahagian dari kita bertanya-tanya, Mengapa Allah swt menciptakan makhluk tersebut? dibawah ini akan kami jelaskan sedikit alasan tentang hal tersebut sesuai dengan penjelasan yang pernah di utarakan oleh Dr. Zakir naik.

Pada ceramah ulama besar kita Dr. Zakir naik dalam ceramahnya pernah diajukan soalan oleh seorang gadis, mengapa Allah SWT menciptakan sosok dajjal dan mengapa Allah memberi kekutan kepadanya (dajjal) untuk menguasai dunia ? mungkin kita bingung karna semua ketentuannya hanya milik Allah SWT

Dr. Zakir Naik menjelaskan, pendeknya, Allah menciptakan dajjal untuk meguji/memberi cobaan kepada kita manusia, sungguh tiada cobaan / ujian yang lebih besar selain cubaan yang diturunkan Allah SWT dengan menurunkan dajjal diantara manusia.

Dr. Zakir Naik juga menambah kenapa Allah memberikan kekuatan kepada dajjal untuk menguasai dunia, itu kerana dalam surah Al-Baqarah iblis meminta kepada Allah untuk penangguhan seksaan kepadanya (iblis) kerana Allah telah mengutuknya (iblis) kerana kesalahan yang dilakukannya, sehingga iblis berkata “aku akan menyesatkan semua pengikut-Mu (Allah) “.

Dan pada saat itu Allah SWT berfirman “Aku memberi penangguhan (dari azab seksa) kepada kamu. Apa kamu fikir kamu hebat? Kamu (iblis) tidak akan dapat menyesatkan para pengikut-Ku (Allah), kau hanya boleh menyesatkan yang bukan pengikut-Ku ( Allah) “. Makna pengikut disini adalah hamba Allah yang taat dan Taqwa.

Jadi saudara, kesimpulannya adalah Allah menciptakan dajjal untuk menguji umat manusia. dan kenapa Allah memberikan kekuatan kepadanya kerana Allah ingin menguji kita sama ada kita mampu mengikuti perintahnya atau tidak.

Dr. Zakir Naik juga menambah perumpamaan untuk hal ini “Kenapa guru memberikan soalan yang sangat sukar? Soalan tersebut tidak boleh kamu jawab namun apabila kamu sanggup menjawab soalan sulit tersebut sungguh kamu mempunyai nilai yang sangat tinggi dari jawapan kamu itu, begitu pula dengan ujian yang Allah berikan kepada kita dengan menurunkan fitnah dajjal, apabila kita sanggup menahan ujian tersebut sungguh kita akan mendapat balasan yang sangat besar dari Allah SWT.” Itulah sedikit pengetahuan tentang dajjal yang boleh kami jelaskan, terima kasih sudah berkunjung, dan semoga bermanfaat.

Sedikit cuplikas ceramah dari Dr. Zakir Naik bisa kamu simak lebih lengkapnya melalui video bermanfaat dibawah ini

Sejarah Keluarga Yasir Teladan Umat dalam Dakwah Islamiyah

Keluarga dari Ammar bin Yasir merupakan teladan bagi umat. Ammar, ibunya, Sumayyah, sekaligus ayahnya, Yasir, memiliki andil cukup besar bagi perjalanan dakwah Islamiyah. Mereka telah mendapat siksaan, yang menurut ukuran manusia amatlah mustahil untuk tetap istiqamah, yaitu ketika majikannya (keluarga Bani Makhzum) mengetahui bahwa keluarga Ammar bin Yasir masuk Islam, kemudian menimpakan berbagai siksaan amat pedih kepada keluarga Ammar.

Dipaksanya anak beranak itu untuk keluar dari Islam, dan kembali kepada agama berhala yang penuh kekufuran.

Suatu hari, di saat matahari padang pasir tengah membara, di sebuah lapangan terbuka di kawasan kota Mekkah, satu keluarga itu tengah menerima siksaan tak terperikan. Berhari-hari lamanya siksaan itu telah mereka derita.

Tatkala Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam berlalu dari hadapan keluarga itu, tiba-tiba terdengarlah rintihan Yasir dalam keadaan terbelenggu kedua tangan dan kakinya, ”Adakah derita ini sepanjang masa?” Segera Rasulullah menengadah ke langit seraya berseru, ”Wahai keluarga Yasir, bersabarlah. Bergembiralah kamu. Sesungguhnya surga telah dipersiapkan sebagai tempat kembali keluargamu.” Mendengar seruan Nabi tersebut, keluarga Yasir menjadi tenteram jiwanya dan kian tabah dalam menghadapi ujian.

Datanglah Abu Jahal laknatullah. Dimintanya keluarga itu memilih antara mati syahid ataukah dibiarkan hidup bersama rekannya dengan meninggalkan ajaran Muhammad, dan kembali menganut agama nenek moyangnya.

Keluarga itu pun tetap berpihak pada ajaran Muhammad. Gugurlah Sumayyah sebagai saksi atas kebenaran yang diyakininya. Ia wanita pertama yang menyandang gelar syahidah atas din Islam ini. Disusul suaminya, Yasir sebagai lelaki pertama yang bergelar sebagai syuhada.

Sementara Ammar, anak pertama tetap bergulat menanggung siksaan. Ia tetap berupaya menanggung siksaan itu betapa pun pedihnya. Namun ia tetaplah sebagai manusia. Sesungguhnya siksaan yang ia terima telah melampaui batas kemanusiaan, hingga tanpa sadar Ammar pun mengucapkan kata-kata kekufuran sebagai upaya melepaskan siksaan yang ia derita.

Sungguh ia bersedih dengan ucapan itu, walaupun dalam hatinya tetap menyakiti sepenuhnya akan kebenaran Islam. Pada saat itu turunlah kebenaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah ia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keadaan beriman (dia tidak berdosa).” (QS. An-Nahl: 106).*/Sudirman STAIL (Sumber buku: 5 Taujih Ruhiyah, penulis: Abdullah Nashih ‘Ulwan)

hidayatullah

Apakah Menjadi Waria Itu Merupakan Takdir atau Keinginan yang Salah ?

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Ustadz yang dirahmati Alloh SWT,

Saya mendengar pengakuan seorang waria yang sudah memutuskan untuk tetap memilih sebagai waria. Ketika kita lihat tampilan luarnya beliau tampak sekali seperti seorang muslimah (berkerudung). Menurut pengakuannya, beliau sudah ditakdirkan sebagai seorang waria.

Bagaimana sikap kita terhadap waria tersebut?menganggapnya sebagai perempuan atau laki-laki?Adakah pada masa rasulullah SAW keberadaan kaum seperti mereka?

Mohon penjelasannya..Terimakasih

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Menentukan Jenis Kelamin Waria

Imam al Kasani menjelaskan tentang hukum khuntsa (waria) dengan mengatakan bahwa waria adalah orang yang memiliki alat kelamin laki-laki dan wanita padahal tidak mungkin dalam diri seseorang mempunyai kepribadian laki-laki sekaligus wanita sesungguhnya. Akan tetapi, bisa jadi ia seorang laki-laki atau wanita.

Adapun penjelasan untuk mengetahui apakah dia seorang laki-laki atau wanita maka bisa melalui tanda-tandanya. Diantara tanda-tanda laki-laki setelah baligh adalah tumbuh jenggot. Sedangkan tanda-tanda wanita setelah dewasa adalah tumbuhnya payudara, mengeluarkan susu dari payudara itu, haid dan melahirkan. Hal itu dikarenakan setiap jenis dari yang disebutkan di atas memiliki kekhasan baik pada laki-laki maupun wanita yang memisahkan antara keduanya.

Adapun tanda-tanda pada saat masih anak-anak, maka dilihat pada tempat buang air seninya, berdasarkan hadits Rasulullah saw,”Waria dilihat dari tempat buang air seninya.” Apabila dia buang air seninya keluar dari alat kelamin laki-laki maka dia adalah laki-laki dan apabila dia keluar dari alat kalamin wanitanya maka ia adalah seorang wanita. Dan apabila air seninya keluar dari kedua-duanya maka lihat dari mana yang lebih dahulu keluar, karena tempat yang lebih dahulu mengeluarkan air seni itu adalah tempat keluar yang asli sedangkan keluar dari tempat yang lainnya adalah tanda kelainan.

Dan jika ternyata air seninya keluar secara bersamaan dari kedua tempat itu maka Abu Hanifah pun tidak memberikan komentar. Dia hanya mengatakan bahwa orang itu adalah khuntsa musykil (waria yang sulit dikenali jenis kelaminnya), inilah kecerdasan fiqih Abu Hanifah karena diam terhadap suatu hal yang tidak ada dalilnya adalah suatu kewajiban.

Abu Yusuf dan Muhammad mengatakan—dalam hal diatas—ditentukan dari banyaknya air seni, karena hal itu menujukkan tempat keluarnya yang asli. Dan tatkala pendapat ini didengar oleh Abu Hanifah maka dia tidak bisa menerimanya dan mengatakan, ”Apakah engkau pernah melihat seorang hakim yang menimbang air seni.” Kedua orang itu pun terdiam dan mengatakan, ”Kalau begitu dia adalah waria yang sulit dikenali jenis kelaminnya.” (Bada’iush Shona’i juz XVII hal 124 – 125)

Adapun terhadap seorang laki-laki yang memiliki organ-organnya yang lengkap kemudian memiliki kecenderungan kepada sifat kewanitaan maka ini adalah perangai kejiwaan yang tidak memindahkannya kepada seorang wanita yang sebenarnya.

Namun terkadang, kecenderungan itu adalah hanya karena kemauan atau buatan sendiri melalui cara meniru-niru, maka hal yang seperti itu akan jatuh kedalam hadits Rasulullah saw yang melaknat orang yang memiliki jenis kelamin tertentu kemudian meniru-niru orang yang memiliki jenis kelamin lainnya..

Namun kecenderungan itu adakalanya merupakan suatu keterpaksaan (bukan dikarenakan pilihannya). Terhadap orang tersebut dianjurkan untuk berobat semampunya karena terkadang pengobatan berjalan sukses tetapi adakalanya gagal, maka serahkanlah semuanya kepada kehendak Allah swt.

Begitupula sebaliknya bagi wanita yang memiliki organ-organnya yang lengkap kemudian memiliki kecenderungan kepada sifat kelaki-lakian maka ini adalah perangai kejiwaan yang tidak memindahkannya kepada seorang laki-laki yang sebenarnya.

Apabila hal itu adalah dikarenakan kemauan dan buatannya maka ia berada dalam ancaman hadits diatas namun apabila itu sebuah keterpaksaan maka diharuskan baginya untuk berobat.

Diperbolehkan baginya untuk melakukan operasi pemindahan kelamin dari laki-laki menjadi wanita atau dari wanita menjadi laki-laki berdasarkan pemeriksaan dokter yang bisa dipercaya dan dikarenakan adanya perubahan-perubahan fisik dalam tubuh yang ditunjukkan dengan tanda-tanda kewanitaan atau tanda-tanda kelaki-lakian yang tertutupi (tidak tampak). Pengobatan di sini haruslah dengan alasan penyembuhan tubuh yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan jalan operasi.

Akan tetapi, jika operasi yang dilakukan hanya sebatas untuk keinginan (kesenangan) merubahnya dan bukan karena adanya perubahan-perubahan fisik yang jelas lagi dominan maka hal itu tidak diperbolehkan. Dan jika ia tetap melakukannya maka orang itu akan termasuk kedalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Anas berkata,”Rasulullah saw melaknat orang laki-laki yang berperangai perempuan dan orang perempuan yang berperangai laki-laki.’ Dan berkata,’Keluarkan mereka dari rumah-rumah kalian.” Maka Nabi saw pun mengeluarkan fulan begitu juga Umar mengeluarkan fulan. (Fatawa Al Azhar juz IX hal 478)

Bagaimana Sikap Kita Seharusnya Terhadap Seorang Waria

Dalam menyikapi atau memperlakukan khuntsa ghoiru musykil (waria yang mudah dikenal jenis kelaminnya)—baik melalui tanda-tandanya setelah baligh / dewasa dengan melihat perubahan pada organ-organ tubuhnya atau pada tempat keluar air seninya apabila ia masih anak-anak—maka apabila yang dominan dan tampak dalam dirinya adalah tanda-tanda laki-lakinya maka diberikan hukum laki-laki kepadanya baik dalam pemandiannya saat meninggal, saff shalatnya maupun warisannya. Begitu pula apabila yang tampak dan dominan dalam diri seorang khuntsa ghoiru musykil adalah tanda-tanda wanitanya maka diberikan hukum wanita terhadap dirinya.

Adapun terhadap khuntsa musykil (waria yang sulit dikenali jenis kelaminnya) maka Imam al Kasani mengatakan,”Jika dia meninggal dunia maka tidak halal bagi kaum laki-laki untuk memandikannya karena adanya kemungkinan dia seorang wanita dan tidak dihalalkan bagi kaum wanita untuk memandikannya karena adanya kemungkinan dia seorang laki-laki akan tetapi cukup ditayamumkan. Orang mentayamumkannya bisa laki-laki atau wanita, jika yang mentayamumkannya adalah dari kalangan mahramnya maka bisa dengan tanpa menggunakan kain namun apabila bukan dari mahramnya maka menggunakan kain serta menutup pandangannya dari tangannya (siku hingga ujung jarinya).

Adapun berdirinya didalam saff shalat maka hendaklah dia berdiri setelah saff kaum laki-laki dan anak-anak sebelum saff kaum wanita. Dia tidak diperbolehkan mengimami kaum laki-laki dikarenakan adanya kemungkinan dia seorang wanita akan tetapi dia boleh mengimami kaum wanita. (Bada’iush Shona’i juz XVII hal 127 – 129)

Waria Pada Era Rasulullah SAW

Diriwayatkan dari Ummu Salamah bahwasanya Nabi saw sedang berada di rumah Ummu Salamah—di rumah itu sedang ada seorang waria—Waria itu berkata kepada saudara laki-laki Ummu Salamah, Abdullah bin Abi Umayah, ’Jika Allah membukakan buat kalian Thaif besok, maka aku akan tunjukkan kepadamu anak perempuan ghoilan, ia seorang yang memiliki perut yang langsing. Maka Nabi saw pun bersabda,’Janganlah orang ini memasuki (tempat-tempat) kalian.”(HR Bukhori)

Al Hafizh menyebutkan apa yang diriwayatkan al Jurjani dalam tarikh-nya dari jalan az Zuhri dari Ali bin al Husein bin Ali berkata,”Pernah ada seorang waria memasuki rumah istri-istri Nabi dan orang itu bernama Hit.” Dikeluarkan oleh Abu Ya’la, Abu Awanah dan Ibnu Hiban seluruhnya dari jalan Yunus dari azZuhri dari Urwah dari Aisyah bahwa Hit lah yang memasukinya.” (Fathul Bari juz IX hal 396)

Wallahu A’lam

-Ustadz Sigit Pranowo, Lc-

Eramuslim

 

Doa Masuk WC dan Keluar WC Lengkap Arab, Latin serta Terjemahannya

Assalamu’alaikum. Jika anda hendak ingin membersihkan diri dari aktivitas sehari-hari ataupun ingin pergi beraktivitas tentunya anda akan melakukan rutinitas yaitu masuk kedalam kamar mandi / WC untuk melakukan beberapa hal seperti mandi / buang air atau yang lainnya, hendaknya anda membaca doa terlebih dahulu agar anda terhindar dari malapetaka dan godaan setan yang dapat menjerumuskan anda ke hal yang tidak baik. Kali ini kami akan memberikan informasi mengenai Doa ketika masuk WC atau kamar mandi dan juga doa setelah keluar dari kamar mandi atau WC. Sebagaimana yang kita ketahui, kamar mandi atau WC/jamban adalah tempat untuk kita membuang hajat, baik itu hajat besar maupun hajat kecil. Meskipun demikian, kita dianjurkan untuk berdoa ketika hendak masuk dan/atau keluar dari tempat tersebut.

 

Tujuannya yaitu kita berharap / meminta perlindungan kepada Allah SWT agar terlindung dari godaan-godaan syaitan laki-laki maupun perempuan. Karena WC atau Kamar mandi merupakan salah satu tempat yang banyak di huni oleh makhluk ghaib. Jadi sangat dianjurkan untuk berdoa.

Dan berikut adalah bacaan doa saat masuk kamar mandi lengkap dalam bahasa arab, bahasa latin serta artinya. 
اَللهُمَّ اِنّىْ اَعُوْذُبِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَآئِثِ

 

ALLOOHUMMA INNII A’UUDZUBIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHOBAAITSI

Artinya: Ya Allah, aku berlindung dari godaan syetan laki-laki dan syetan perempuan

 

 

Lafadz doa keluar dari WC/ Kamar Mandi dalam bahasa arab, latin serta arti terjemahannya.
غُفْرَانَكَ الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ اَذْهَبَ عَنّى اْلاَذَى وَعَافَانِىْ

 

GHUFROONAKAL HAMDU LILLAAHIL LADZII ADZHABA ‘ANNIL ADZAA WA ‘AAFAANII

Artinya: Dengan mengharap ampunanMu, segala puji milik Allah yang telah menghilangkan kotoran dari badanku dan yang telah menyejahterakan.

 

 

Semoga kita semua terhindar dari godaan syetan yang sering menjerumuskan kita kedalam hal yang tidak baik.